Minggu, 03 November 2013

KEKUASAAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

0 komentar

Oleh : Sawiyanto, M.A
PENDAHULUAN
Dilandasi dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu pasti akan di mintai pertanggungjawaban apa yang dipimpin” . khususnya dalam dunia pendidikan khususnya di madrasah sudah seharusnya masalah kepemimpinan menjadi topik yang paling urgent demi menciptakan suasana madrasah yang kondusip dan berwibawa. Kepemimpinan pendidikan merupakan suatu penomena kemampuan seseorang dalam menggerakkan, membimbing dan mengarahkan orang lain dalam kerjasama pelaksanaan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan filosofi kepemimpinan yang (pada dasarnya) menjunjung tinggi asas hubungan kemanusiaan (Human Relation Ship).
Dalam efektifitas kepemimpinan, paradigma yang lebih mendekati kebenaran ilmiah –mengenal pemimpin yang baik – adalah seorang yang mempunyai kecendrungan untuk tidak mengganggap diri sendiri sebagai orang yang serba mengetahui dan berusaha untuk menyesuaikan kelompok, tidak menyandarkan diri pada kedudukannya, prestasinya dan kekuasaannya, akan tetapi pada kemampuannya untuk menjalankan kepemimpinan yang dinamis dan menghubungkan diri dengan kelompoknya dan sebailknya kelompok dengan pemimpin. Kecendrungan-kecendrungan itu, dengan sendirinya menunjukkan kekuatan dan pengaruh pemimpin dalam kepemimpinannya.
A. Definisi Kekuatan dan Pengaruh (Dalam Kepemimpinan Pendidikan)
Sebagai unsur pokok kepemimpinan, kekuatan dan pengaruh seorang pemimpin merupakan aspek yang paling krusial yang menjadi barometer keberhasilan kepemimpinannya. Merujuk kepada kamus besar bahasa Indonesia (Media Pustaka Phoenix, 2009), kekuatan adalah tenaga, gaya atau kekuasaan. Sedangkan pengaruh adalah daya yang timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.
Dengan demikian kekuatan (dalam konteks kepemimpinan pendidikan) adalah daya yang ditimbulkan seorang pemimpin dalam otoritasnya pada kepemimpinan pendidikaan. Sedangkan pengaruh merupakan representasi dan kekuatan yang dapat membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan anggota dalam mewujudkan situasi atau iklim kerja sama dalam kepemimpinan pendidikan.
B. Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan Pendidikan.
Dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, seorang pemimpin pendidikan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mewarnai pola kepemimpinan, diantaranya ;
1. Factor Ilegal
Pemimpin pendidikan akan berhadapan dengan peratuan-peraturan formal dari instansi sturuktural yang berada diatasnya. Misalnya falsafat pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, serta undang-undang lainnya akan mempengaruhi pola kepemimpinan pendidikan. Demikian pula dalam kaitannya dengan standar yang berkaitan dengan pengangkatannya sebagai pemimpin pendidikan (Misalnya; Sertifikasi, Pola penyeleksian, Kualifikasi Professional).
2. Kondisi Sosial Ekonomi dan Konsep-Konsep Pendidikan.
Faktor ini memungkinkan tersedianya sumber-sumber dan fasilitas pendidikan dalam memperlancar proses pendidikan termasuk pemahaman pemimpin terhadap tujuan pendidikan yang akan mewarnai tindakan kepemimpinannya.
3. Hakekat dan Ciri Sekolah
Merupakan faktor yang berkaitan dengan ciri dan hakikat para staf, murid dan jenis sekolah, sistem administrasi, kurikulum dan pendekatan yang digunakan dalam sistem pendidikan.
4. Kepribadian Pemimpin Pendidikan dan Latihan-Latihan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa individu (pemimpin) membawa sesuatu dalam jabatannya. Energy, loyalitas, paradigma dan atribut professional yang melekat padanya akan berpengaruh terhadap sistem kepemimpinan. Selain itu, pendidikn tambahan dan latihan-latihan juga akan memperkaya jabatan kepemimpinannya.
5. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam teori pendidikan.
Tugas kepemimpinan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai perubahan teori dan metode aktifitas belajar, konsep-konsep pertumbuhan dan perkembangan anak membawa implikasi terhadap prosedur pengajaran dikelas. Prubahan dan perkembangan kurikulum juga menghendaki persiapan kepemimpinan dan keterampilan kepemimpinan yang baru. Perubahan dalam teori-teori pendidikan akan mengubah strategi pengelolaan dan kepemimpinan.
C. Keterampilan Dalam Kepemimpinan Sebagai Kekuatan Pemimpin Pendidikan.
Kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajerial dalam kehidupan organisasi yang merupakan posisi kunci. Karena kepemimpinan perperan sebagai penyelaras dalam proses kerjasama antar manusia dalam organisasi. Walaupun berasal dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Menurut R.E Byrd (1987) seorang pemimpin setidaknya memiliki lima keterampilan, antara lain ;
1. Pemberian Kuasa (empowerment) adalah pembagian kuasa oleh pemimpin terhadap bawahannya.
2. Intuisi (intuition) adalah keterlibatan pemimpin dalam menatap situasi, mengantisipasi perubahan, mengambil resiko, dan membangun kejujuran.
3. Pemahaman Diri (self understanding) adalah kemampuan untuk mengenali kekuatan-kekuatan atau hal-hal positif yang ada pada dirinya dan kemampuan dalam menetapkan upaya mengatasi kelemahan yang ada pada dirinya.
4. Pandangan (vision) adalah keterlibatan dirinya dalam mengimajinasi kondisi lingkungan yang berbeda-beda serta dalam mengimajinasikan suatu kondisi untuk memperbaiki lingkungan organisasi.
5. Keselarasan (congruence value) adalah kemampuan dalam mengetahui dan memahami nilai-nilai yang berkembang dalam organisasinya, nilai-nilai yang dimiliki bawahannya, serta dalam memadukan dua nilai itu menuju organisasi yang efektif.
D. Kekuatan Sebagai Barometer Kepemimpinan.
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi, menggerakkan dan menjalankan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pada situasi tertentu. Maka, seorang pemimpin adalah orang yang memberi inspirasi, membujuk, mempengaruhi dan memotivasi anggota dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan. Sebagai barometer kepemimpinan, unsur-unsur kekuatan diantaranya ;
a. Inspirasi, merupakan unsur tertinggi dari kepemimpinan, seorang pemimpin harus mempunyai daya tarik personal atau menjadi suri tauladan agar bisa memberi inspirasi.
b. Persuasi, adalah aspek penting dari peran seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus bisa mengubah pikiran bawahannya atau bertindak tegas.
c. Pengaruh, sering didefinisikan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.
d. Motivasi, merupakan bagian inti dari tugas pemimpin. Motivasi adalah tantangan utama yang sudah ada sejak lama di dalam tugas kepemimpinan yang mengacu kepada prilaku aktual. Teori motivasi Maslow (1943) yang dikenal dengan istilah Maslow’s Need Hierarchy Theory dalam Husaini Usman menyatakan, kepuasan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: a) imbalan jasa, b) rasa aman , c) Pengaruh antarpribadi, d) kondisi lingkungan kerja, e) kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri.



Daftar Pustaka
Byrd, R.E., Organizational Dynamics, Summer 1987.
Dessler Gary. Manajemen Sumber Daya Manusia, terj. Triyana Iskandarsyah. Jakarta: Prenhallindo, 1997.
Dubin, Andrew J. , The Complete Ideal’s Guades Leaderdship, Jakarta; Prenada, 2006.
Fahmi Irham. Manajemen Kinerja Teori dan Aplikasi. Bandung: Penerbit Alfabeta, 2010.
Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, Edisi 3 (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)
Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 4. Jakarta: PT. Media Pustaka Phoenix, 2009
Madhi, Jamal, Menjadi Pemimpin Yang Efektif dan Berpengaruh, Bandung; Syaamil Cipta Media, 2001
Siagian, Sondang P., Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta; Rineka Cipta, 1991.
Sujak, Agi, Kepemimpinan Manajer; Eksistensinya Dalam Prilaku Organisasi, Jakarta; Rajawali 1990.
Soetopo, Hendiyat & Wasty Soemanto, Kepemimpinan Dan Supervisi Pendidikan, Jakarta; Bina Aksara, 1988.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 01 November 2013

NRG GURU RA/MADRASAH 2013 JAWA TENGAH

0 komentar
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 667 Tahun 2013 tanggal 22 Maret 2013 Tentang Penetapan Guru Profesional Dalam Binaan Direktur Pendidikan Madrasah SUDAH di PIBLIKASIKAN, dan termasuk semua daerah juga sudah di Publikasikan. Dan sampai tanggal tulisan ini NRG daerah lain belum di Publikasikan khususnya dalam lingkungan Kemenag Sumatera Utara. Baiklah untuk melihat bentuk SK DIRJEN TERSEBUT silahkan Klik DISINI.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 05 Oktober 2013

KITA HARUS KAYA DATA PENDIDIKAN

0 komentar
“PENTINGNYA KAYA DATA PENDIDIKAN”
Oleh : Sawiyanto, S.Pd.I, M.A

Terlebih dahulu mari kita simak pengarahan Bapak Menteri Agama RI berikut ini:

MENAG : KITA MISKIN DATA PENDIDIKAN
PENDIS - "Kita miskin data," demikian dikatakan Menag ketika memberi pengarahan pada Rapat Kerja (Raker) Tahun 2013 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta yang diikuti 278 peserta yang berasal dari Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, dan pejabat struktural Kanwil Kemenag se DKI Jakarta di Bogor, Kamis (25/07) malam.
Untuk itu Menteri Agama Suryadharma Ali meminta seluruh jajarannya untuk segera menyelesaikan problem miskinnya data kelembagaan pendidikan di lingkungan kementerian yang dipimpinnya sehingga upaya peningkatan kualitas bagi penyelenggaraan program pendidikan bisa dimaksimal.
Menag memberikan penekanan secara khusus kepada program penyelenggaraan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Menurutnya, anggaran di Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam (Pendis) demikian besar tetapi belum terkelola dengan baik hingga belum bisa memberi manfaat luas dan menarik perhatian masyarakat, juga media massa.
"Anggaran di Ditjen Pendis mencapai Rp43 triliun. Sementara di ditjen lain, seperti Bimas Islam, sangat kecil," kata Menag.
Karena itu, Menag meminta agar penyelenggaraan pendidikan di Kementerian Agama mendapat perhatian serius. "Data harus lengkap dan akurat, jangan sampai tidak diketahui berapa jumlah ruang kelas siswa yang rusak, madrasah mana yang rusak, dimana lokasinya, sehingga program menjadi tidak tepat sasaran," tegas Menag mengingatkan.
"Selama ini sulit diketahui. Sebabnya, karena kita miskin data," imbuh Menag.
Masalah miskin data ini, lanjut Menag, berlanjut pada mekanisme kerja serabutan dan hanya mementingkan besarnya anggaran. Itu bisa terlihat misalnya, kata Menag, dari kasus bantuan komputer pada madrasah yang tidak mampu mengoperasionalkannya karena terkendala masalah listrik. "Kalau memberi bantuan komputer pada madarasah yang tidak mampu mengoperasikannya, komputer pun disimpan, hanya teronggok di atas meja dipenuhi debu," ungkap Menag.
Ada juga program pengiriman buku kepada madrasah yang tidak memintanya. Ini sangat mencolok. "Kapan gue minta," kata Menag dengan logat Betawi dan disambut tawa hadirin.
Menag sekali lagi meminta agar penyelenggaraan pendidikan mendapat perhatian besar. Sebab, kualitas umat di masa depan tergantung pada pendidikannya. Seluruh warga di Indonesia, termasuk di Jakarta, berhak mendapat pendidikan.
Selain masalah data, Menag meminta agar pemberian bea siswa bagi anak miskin harus dilanjutkan. Demikian pula mengenai tunjangan profesi bagi guru. "Perhatian pemerintah demikian besar, sampai-sampai "kedodoran" utang Rp1,9 triliun, pascasertifikasi guru. Diharapkan dana tersebut sudah terbayar pada 2014.
"Itu di Kemenag, Di Kemendikbud lebih besar lagi, sekitar Rp8 triliun," tutu Menag.


Nah itu dia..............
Saya mengucapkan salut dan apresiasi kepada Bapak Menteri Agama RI (DR. Suryadharma Ali, M.Si) yang sangat perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan khususnya pendidikan dalam lingkungan Kementerian Agama RI. “KITA MISKIN DATA PENDIDIKAN” demikian fokus yang disampaikan Bapak Menteri Agama kita.
Sekedar mengingatkan kepada kita bahwa: data adalah segala fakta atau keterangan tentang sesuatu yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Sedangkan informasi adalah berita yang merupakan hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan (Ruseffendi, 1998: 21).
Menurut  Kamus bahasa Indonesia, Pusat Data Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, 2008, Hal. 321: “data adalah:
1   kenyataan yang ada yangg berfungsi sebagai bahan sumber untuk menyusun suatu pendapat;
2   keterangan yg benar;
3   keterangan atau bahan yg dipakai untuk penalaran atau penyelidikan;”

Setidaknya ada 3 data yang harus di “KAYAKAN” dalam dunia pendidikan, yaitu:
1.      Data sumberdaya manusia;
2.      Data perangkat lunak;
3.      Data harapan-harapan;
Ketiga data diatas sekaligus merupakan Input dalam pendidikan, yaitu sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses pendidikan dan sekaligus  sebagai pemandu bagi berlangsunnya proses pendidikan itu sendiri.
Input sumber daya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BP, karyawan, siswa) dan sumberdaya lainnya, seperti peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dan sebagainya. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program, sebagainya. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran- sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut.
Saya yakin selama ini kita banyak memiliki informasi dalam mengelola pendidikan, akan tetapi kita tidak memiliki data yang valid. Informasi yang kita miliki tidak terdokumen dengan baik, sehingga benar kata Bapak Menteri Agama RI, bahwa “kita miskin data pandidikan.”
Untuk itu kedepan kita harus men-dokumentasi-kan setiap informasi yang kita miliki, menyimpannya dengan rapi dalam suatu file khusus berdasarkan pengelompokan data yang sesuai input pendidikan. Data yang kita miliki harus akurat sesuai kenyataan yang ada di madrasah kita, terutama yang menyangkut data siswa dan data guru. Demikian semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan madrasah.
Saya juga berharap kepada pengelola: “EMIS PENDIS” untuk kiranya mengaktifkan sistem ini agar pengelola madrasah dan juga RA dapat meng-UPDATE” data yang ada.

Semoga Pendidikan dalam lingkungan Kementerian Agama sukses selalu.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 September 2013

Pengertian Kepemimpinan

0 komentar
Oleh: Sawiyanto, MA.
Ada banyak pengertian "Kepemimpinan", antara lain:
Menurut Stogdill (1974) "Kepemimpinan adalah 1) fokus dari proses kelompok 2) penerimaan kepribadian seseorang 3) seni memengaruhi perilaku 4) alat untuk memengaruhi perilaku 5) suatu tindakan perilaku 6) bentuk dari ajakan (persuasi) 7) bentuk dari relasi yang kuat 8) alat untuk mencapai tujuan 9) akibat dari interaksi 10) peranan yang diferensial 11) pembuat struktur.
Menurut Yukl (1987) " Kepemimpinan adalah :
1. perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal);
2. pengaruh antarpribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu;
3. pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi;
4. peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi;
5. proses memengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan;
6. sebuha proses memberikan arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran;
7. mereka yang secara konsisten memberikan konstribusi yang efektif terhadap orde sosial, serta yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya.
Menurut Surat Keputusan badan Administrasi Kepegawaian Negara No. 27/KEP/1972 "Kepemimpinan" ialah kegiatan untuk meyakinkan oranglain sehingga dapat dibawa turut serta dalam suatu pekerjaan.
Menurut Surat Edaran Kepala badan Administrasi Kepegawaian Negara No. 02/SE/1980 "Kepemimpinan" ialah kemampuan seorang Pegawai Negeri Sipil untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara optimal.
Menurut terry & Rue (1985) "Kepemimpinan" adalah hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin, memengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan.
Menurut Yaverbaum & Sherman (2008) "Leadership is act of gaining cooperation from people in order to accomplish something." (Kepemimpina adalah tindakan mendapatkan kerjasama dari orang untuk mencapai sesuatu.").
Menurut Sanusi (1989) "Kepemimpinan" adalah penyatupaduan dari kemampuan, cita-cita dan semangat kebangsaan dalam mengatur, mengendalikan, dan mengelola rumah tangga keluarga maupun organisasi atau rumah tangga negara.
Baca Selengkapnya...

Sistem Pelayanan Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan

0 komentar
Oleh: Sawiyanto, M.A
Pernikahan/Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut hukum perdata perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Sedangkan menurut hukum islam perkawinan adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalididzan, untuk mentaati perintah Allah SWT dan melaksanakannya bernilai ibadah. Tujuan perkawinan berdasarkan penjelasan Undang-undang No.1 Tahun 1974 adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal (mendapatkan keturunan) bedasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menikah atau melangsungkan suatu perkawinan merupakan fitrah manusia yang tidak dapat dihilangkan, tetapi harus dilaksanakan pada jalan yang benar agar tidak menyimpang dari aturan yang ada pada Kompilasi Hukum Islam dan tidak menimbulkan malapetaka bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia membutuhkan pelengkap hidup berupa perkawinan, laki-laki membutuhkan seorang perempuan sebagai pasangannya, dan perempuan membutuhkan seorang laki-laki sebagai pelindungnya, yang demikian ini merupakan hukum alam. Allah SWT telah menciptakan segala makhluk yang ada di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Manusia diciptakan untuk berjodoh-jodohan, agar generasi yang akan datang di muka bumi ini bisa menyambung dan meneruskan cita-cita generasi sebelumnya yang tidak selamanya hidup di dunia, karena usia mereka yang terbatas. Apabila ia tidak menurunkan generasi berikutnya, maka tidak ada lagi generasi penyambung perjuangan, dunia akan mati dalam kurun waktu yang relatif singkat.
Perkawinan adalah perilaku ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, agar kehidupan di alam dunia berkembang biak. Perkawinan bukan saja terjadi dikalangan manusia tetapi juga pada hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu manusia sebagai makhluk yang berakal, perkawinan merupakan salah satu budaya beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat sederhana budaya perkawinannya tertutup, sedangkan dalam masyarakat yang maju (modern) budaya perkawinannya maju, luas dan lebih terbuka.
Budaya perkawinan dan aturannya yang berlaku pada suatu masyarakat atau pada suatu bangsa, tidak terlepas dari pengaruh budaya dan lingkungan dimana masyarakat itu berada serta pengetahuan, pengalaman, kepercayaan dan keagamaan yang dianut masyarakat bersangkutan. Seperti halnya aturan perkawinan bangsa Indonesia, bukan saja dipengaruhi adat budaya masyarakat setempat tetapi juga dipengaruhi ajaran agama, bahkan juga dipengaruhi budaya barat. Jadi, walaupun Bangsa Indonesia kini telah memiliki hukum positif sebagai landasan dasar melakukan suatu perkawinan, yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, namun pada kenyataannya bahwa di kalangan masyarakat Indonesia masih tetap berlaku ketentuan adat dan upacara-upacara adat dalam melangsungkan perkawinan yang berbeda-beda, antara satu lingkungan masyarakat dengan masyarakat lainnya. Sebagai contoh masyarakat Minangkabau dengan suatu tata tertib perkawinan yang bersendikan keibuan, masyarakat Batak yang tata tertib perkawinannya bersendikan kebapaan, dan masyarakat Jawa yang tata tertib perkawinannya bersendikan kebapak-ibuan, yang di dalamnya tata tertib perkawinan tersebut menggunakan suatu upacara adat perkawinan yang berbeda antara satu dengan lainnya, selain itu juga menurut kepercayaan agama masing-masing.
Suatu cita-cita setiap orang untuk melaksanakan perkawinan dan menginginkan perkawinan itu berlangsung selama akhir hayat, karena perkawinan dalam Islam bertujuan yaitu :
1.    Supaya umat manusia itu hidup dalam masyarakat yang teratur dan tentram, baik lahir maupun batin.
2.   Supaya kehidupan dalam suatu rumah tangga teratur dan tertib menuju kerukunan anak-anak yang shaleh, yang berjasa dan berguna kepada kedua orang tua, agama, masyarakat, bangsa dan negara.
3.  Supaya terjalin hubungan yang harmonis antara suami istri, seterusnya hubungan famili, sehingga akan terbentuk ukhuwah yang mendalam yang diridhoi Allah swt.
Bertolak dari rumusan tersebut bahwa Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat) dengan anggapan bahwa pola yang diambil tidak menyimpang dari pengertian negara hukum pada umumnya yang disesuaikan dengan keadaan Indonesia, artinya dengan ukuran pandangan hidup maupun pandangan bernegara kita. Dalam prakteknya sering terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan-aturan yang sudah ditentukan, seperti terjadinya perkawinan di bawah umur, kawin siri, kawin kontrak, hal ini berdampak terhadap perlindungan hak-hak dari keturunan hasil pernikahan tersebut.
Perintah Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan pernikahan dan melarang membujang terus-menerus juga sangat beralasan. Hal ini karena libido seksualitas merupakan fitrah kemanusian dan juga makhluk hidup lainnya yang melekat dalam diri setiap makhluk hidup yang suatu saat akan mendesak penyalurannya. Bagi manusia penyaluran itu hanya ada satu jalan, yaitu perkawinan.

Peranan BP4 Dalam Upaya Penyelesaian Perselisihan Perkawinan
Peraturan Mentri Agama No. 3 Tahun 1975 Pasal 28 ayat (3) menyebutkan bahwa “Pengadilan Agama dalam berusaha mendamaikan kedua belah pihak dapat meminta bantuan kepada Badan Penasehat Perkawinan, Perselisihan dan Perceraian (BP4) agar menasehati kedua suami istri tersebut untuk hidup makmur lagi dalam rumah tangga”. Di Kecamatan Tanjung Morawa setiap tahun ada sekitar seribu lima ratus pasangan perkawinan, tetapi yang memilukan perceraian bertambah menjadi dua kali lipat, setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai, dan umumnya mereka yang baru berumah tangga.
Islam dengan tegas menyatakan bahwa perceraian itu adalah suatu perbuatan yang halal, tetapi paling dibenci Allah SWT . Tapi, faltanya, perceraian itu menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia. Dalam Al-Quran 80 persen ayat membicarakan tentang penguatan bangunan rumah tangga, hanya sebagian kecil yang membicarakan masalah penguatan negara, bangsa apalagi masyarakat, sebab keluarga adalah sendi dasar terciptanya masyarakat yang ideal, mana mungkin negara dibangun di atas bangunan keluarga yang berantakan.
Kesimpulan
Dari pendahuluan dan beberapa kasus tersebut peran BP4 belum optimal dan tindak lanjut dari penyelesaian kasus belum dapat diselesaikan secara baik. Disarankan kepada pasangan yang berselisih untuk lebih memahami ilmu agama islam, ilmu munakahat, membina kembali keutuhan rumah tangga dengan saling mengerti dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Kepada BP4 disarankan untuk lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Kepada Kepala Kantor Departemen Agama agar membina dan mengawasi kinerja BP4 agar lebih optimal dalam menjalankan tugas pokoknya dalam menyelesaikan perselisihan perkawinan.
Baca Selengkapnya...

MANUSIA DALAM MENSIKAPI FENOMENA ALAM

0 komentar
Oleh : Sawiyanto, S.Pd.I, M.A
PEMBAHASA
2.1        Perkembangan Pikiran Manusia
A.  Sifat Unik Manusia
Dibandingkan dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohani, akal budi, dan kemauannya sangat kuat. Manusia tidak mempunyai tanduk, taji, ataupun sengat, maka untuk membela diri terhadap serangan dari makhluk lain dan untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan, manusia harus memanfaatkan akal budinya yang cemerlang. Kemauannya yang keras menyebabkan manusia dapat mengendalikan jasmaninya.
Hal ini dapat menimbulkan efek yang negatif misalnya, manusia dapat mogok makan, dapat minum-minuman keras sampai mabuk, dan bahkan dapat  bunuh diri. Kalau tubuh mendapat pengaruh yang negatif dari lingkungan, maka timbul reaksi yang mendorong tubuh supaya melepaskan diri dari lingkungan yang merugikan itu. Tetapi kemauan keras dapat memaksa tubuh supaya tetap menerima pengaruh yang negatif itu. Jadi, sifat unik manusia itu adalah akal budi dan kemauannya menaklukkan jasmaninya. 
B.  Rasa Ingin Tahu
Dengan pertolongan akal budinya, manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan. Tetapi adanya akal budi itu juga menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Dengan kata lain, rasa ingin tahu itu tidak pernah dapat dipuaskan. Akal budi manusia tidak pernah puas dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di dalam pikirannya.

Kegiatan yang dilakukan manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya sehingga tidak dapat menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah kegiatan-kegiatan yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.
Kegiatan untuk mencari pemecahan dapat berupa:
1.      Penyelidikan langsung.  
2.      Penggalian hasil-hasil penyelidikan yang sudah pernah diperoleh orang lain.
3.      Kerjasama dengan penyelidik-penyelidik lain yang juga sedang memecahkan soal yang sama atau yang sejenis.
Sebenarnya setiap orang mempunyai rasa ingin tahu, meskipun kekuatan atau intensitasnya tidak semua sama, sedangkan bidang minatnyapun berbeda-beda. Rasa ingin tahu inilah yang dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh lingkungan.
Jadi rasa ingin tahu tiap manusia pada setiap saat belum tentu sama kuat, demikian pula kelompok fenomena yang menimbulkan rasa ingin tahu biasanya berbeda-beda dan dapat berubah-ubah menurut keadaan. Tidak mungkin setiap individu mempunyai rasa ingin tahu yang sama kuat terhadap segala fenomena yang terjadi dari alam.
Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam, tetapi pengetahuan manusia juga berkembang sampai kepada hal-hal tentang keindahan.
C.  Rasa Ingin Tahu Menyebabkan Alam Pikiran Manusia Berkembang
Ada dua macam perkembangan yang akan kita tinjau, yaitu:
1.      Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purba hingga dewasa ini.
2.      Perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya.
Perkembangan alam pikiran dapat juga disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongan dari dalam yang berupa rasa ingin tahu. Jadi dengan kata lain, bahwa alam pikiran manusia berkembang terutama karena ada dorongan dari dalam, yaitu rasa ingin tahu.

2.2        Mitos, Penalaran, dan Pengetahuan Pangkal Kelahiran Ilmu Pengetahuan Alam
A.  Mitos
Menurut A. Comte, bahwa dalam sejarah perkembangan manusia itu  ada tiga tahap, yaitu:
1.      Tahap teologi atau tahap metafisika
2.      Tahap filsafat
3.      Tahap positif atau tahap ilmu
Dalam tahap teologi atau tahap metafisika, manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita atau kenyataan, yaitu pengetahuan yang tidak obyektif, melainkan subyektif. Mitos ini diciptakan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Dalam alam pikiran, mitos, rasio atau penalaran belum terbentuk, yang bekerja hanya daya khayal, intuisi, maupun imajinasi.
Menurut C.A. van Peursen, mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat pula diungkapkan lewat tari-tarian atau pementasan wayang, dan sebagainya. Inti cerita adalah lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia beserta lambang kejahatan dan kebaikan, kehidupan dan kematian, dosa dan penyucian, juga perkawinan dan kesuburan.
Pada tahap teologi ini, manusia menemukan identitas dirinya. Manusia sebagai subyek yang masih terbuka dikelilingi oleh obyek yaitu alam, sehingga manusia mudah sekali dimasuki oleh daya dan kekuatan alam. Lewat mitos inilah, manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian alam sekitarnya, dan dapat menanggapi daya kekuatan alam.
Berikut ini akan dijelaskan contoh-contoh mengenai mitos, yaitu:
1.      Gunung api meletus hebat, menimbulkan gempa bumi, mengeluarkan lahar panas dan  awan panas, sehingga menimbulkan banyak korban manusia. Manusia pada tahap teologi (menurut A. Comte) atau pada tahap mitos (C.A. van Peursen) belum dapat melihat realita ini dengan inderanya.
2.      Gempa bumi diduga terjadi karena Atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya) memindahkan bumi dari bahu yang satu ke bahu yang lain.
3.      Gerhana bulan disangka terjadi karena bulan dimakan raksasa.
4.      Bunyi guntur dikira ditimbulkan oleh roda kereta yang dikendarai dewa melintasi langit.
Mencari jawaban atas masalah seperti itu, dan menghubungkannya dengan makhluk-makhluk gaib, disebut berpikir secara irasional. Demikianlah manusia pada tahap mitos atau teologi menjawab keingintahuannya dengan menciptakan dongeng-dongeng atau mitos, karena alam pikirannya masih terbatas pada imajinasi atau intuisi.
B.  Penalaran Deduktif (rasionalisme)
Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos.
Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berpikir secara obyektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang obyektif. Berbeda dengan pada tahap teologi, pada tahap filsafat ini manusia mencoba mempergunakan rasionya untuk memahami obyek secara dangkal, tetapi obyek belum dimasuki secara metodologis yang definitif.
Perkembangan alam pikiran manusia merupakan suatu proses,  maka manusia tidak puas dengan pemikiran ini, sehingga berkembang ke dalam tahap positif atau tahap ilmu. Dalam tahap positif atau tahap ilmu ini, rasio sudah dioperasikan secara obyektif. Manusia menghadapi obyek dengan rasio.
Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa alam, misalnya gunung api meletus yang menimbulkan banyak korban dan kerusakan, manusia tidak lagi mengadakan selamatan dengan tari-tarian dan nyanyian, tetapi akan mengamati peristiwa itu, mempelajari mengapa gunung api itu dapat meletus, kemudian berusaha mencari penyelesaian dengan tindakan-tindakan yang sesuai dengan hasil pengamatannya. Misalnya, dengan mencegah terjadinya letusan yang hebat. Untuk mengurangi banyaknya korban, penduduk di sekeliling gunung api tersebut dipindahkan ke daerah lain. Inilah bukti bahwa manusia lama-kelamaan tidak puas dengan mitos sebagai pemikiran yang irasional, kemudian mencari jawaban yang rasional.
Pemecahan secara rasional berarti mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Kaum rasionalis mengembangkan paham yang disebut rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme itu terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu disebut  premis mayor dan premis minor. Kesimpulan atau konklusi diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut.
Dengan demikian, jelas bahwa penalaran deduktif ini pertama-tama harus mulai dengan pernyataan yang sudah pasti kebenarannya. Aksioma dasar ini yang dipakai untuk membangun sistem pemikirannya, diturunkan atau berasal dari idea yang menurut anggapannya jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Dengan penalaran deduktif ini dapat diperoleh bermacam-macam pengetahuan mengenai sesuatu obyek tertentu tanpa ada kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Di samping itu juga terdapat kesulitan untuk menerapkan konsep rasional kepada kehidupan praktis.  
C.  Penalaran Induktif (empirisme)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain yang berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret disebut penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang  benar ialah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret.
Penganut empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan, atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya, pada pengamatan atas logam besi, tembaga, aluminium, dan sebagainya, jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang diperoleh hanya dengan penalaran deduktif tidak dapat diandalkan karena bersifat abstrak dan lepas dari pengalaman. Demikian pula dengan pengetahuan yang diperoleh hanya dari penalaran induktif juga tidak dapat diandalkan karena kelemahan pancaindera. Karena itu himpunan pengetahuan yang diperoleh belum dapat disebut ilmu pengetahuan.   
D.  Pendekatan Ilmiah sebagai Kelahiran Ilmu Pengetahuan Alam
Metode keilmuan atau pendekatan ilmiah adalah perpaduan antara rasionalisme dan empirisme. Pengetahuan yang disusun dengan cara pendekatan ilmiah atau menggunakan metode keilmuan, diperoleh melalui kegiatan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah ini dilaksanakan secara sistematik dan terkontrol berdasarkan atas data-data empiris. Kesimpulan dari penelitian ini dapat menghasilkan suatu teori. Metode keilmuan itu bersifat obyektif, bebas dari keyakinan, perasaan dan prasangka pribadi, serta bersifat terbuka.
Jadi, suatu himpunan pengetahuan dapat digolongkan sebagai ilmu pengetahuan bilamana cara memperolehnya menggunakan metode keilmuan, yaitu gabungan antara rasionalisme dan empirisme. Secara lengkap dapat dikatakan bahwa suatu himpunan pengetahuan dapat disebut Ilmu Pengetahuan Alam bilamana memenuhi persyaratan berikut, yaitu: obyeknya pengalaman manusia yang berupa gejala-gejala alam, yang dikumpulkan melalui metode keilmuan serta mempunyai manfaat untuk kesejahteraan manusia.   

2.3        Metode Ilmiah sebagai Ciri Ilmu Pengetahuan Alam
Berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris membentuk dua kutub yang saling bertentangan. Kedua belah pihak, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Gabungan antara dua pendekatan rasional dan pendekatan empiris dinamakan metode ilmiah. Rasionalisme memberi kerangka pemikiran yang koheren dan logis, sedangkan empirisme dalam memastikan kebenarannya memberikan kerangka pengujiannya. Dengan demikian, maka pengetahuan yang dihasilkan yaitu pengetahuan yang konsisten dan sistematis serta dapat diandalkan, karena telah diuji secara empiris.
Metode ilmiah merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Dan dapat juga dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan antara rasionalisme dan empirisme. Cara-cara berpikir rasional dan empiris tersebut tercermin dalam langkah-langkah yang terdapat dalam proses kegiatan ilmiah tersebut.
Kerangka dasar, prosedurnya dapat diuraikan atas langkah-langkah seperti berikut:
1.      Penemuan atau penentuan masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi berbagai masalah. Kesadaran mengenai masalah yang kita temukan secara empiris tersebut menyebabkan kita mulai memikirkannya secara rasional.
2.      Perumusan kerangka masalah
Langkah ini merupakan usaha untuk mendeskripsikan permasalahannya secara lebih jelas.
3.      Pengajuan hipotesis
Hipotesis adalah kerangka pemikiran sementara yang menjelaskan hubungan antara unsur-unsur yang membentuk suatu kerangka permasalahan.
4.   Deduksi hipotesis 
Kadang-kadang, dalam menjembatani permasalahan secara rasional dengan pembuktian secara empiris membutuhkan langkah perantara.
5.   Pengujian hipotesis
      Langkah ini merupakan usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan deduksi hipotesis.
6.      Keterbatasan dan keunggulan metode ilmiah.
Keterbatasan:
Semua kesimpulan ilmiah atau kebenaran ilmu termasuk Ilmu Pengetahuan Alam bersifat tentatif, yang artinya kesimpulan itu di anggap benar selama belum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu, sedangkan kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan ilmiah yang terdahulu, menjadi kebenaran ilmu yang baru. Keterbatasan lain dari metode ilmiah adalah tidak dapat menjangkau untuk membuat kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, tentang seni dan keindahan, dan juga tidak dapat menjangkau untuk menguji adanya Tuhan.

Keunggulan:
Ilmu atau Ilmu Pengetahuan Alam mempunyai ciri khas yaitu obyektif, metodik, sistematik, dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat tersebut, maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan ilmu pengetahuan akan terbimbing sedemikian rupa hingga padanya terkembangkan suatu sikap ilmiah.
Yang dimaksud dengan sikap ilmiah tersebut adalah sikap:
a.       Mencintai kebenaran yang obyektif, dan bersikap adil.
b.      Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolut.
c.       Tidak percaya pada takhayul, astrologi, maupun untung-untungan.
d.      Ingin tahu lebih banyak.
e.       Tidak berpikir secara prasangka.
f.       Tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.
g.      Optimis, teliti, dan berani menyatakan kesimpulan yang menurut keyakinan ilmiahnya adalah benar.



PENUTUP
Demikianlah karya ilmiah ini yang dapat penulis buat mengenai materi berjudul “Perkembangan Pemikiran Manusia dalam Mensikapi Fenomena Alam” yang menjadi pokok pembahasan atau intisari permasalahannya. Karya ilmiah ini penulis buat dengan sebaik mungkin, tetapi penulis menyadari bahwasanya masih terdapat kekurangan dan kelemahan dari karya ilmiah ini.
Penulis berharap para pembaca dapat memberikan masukan dan saran yang membangun atau konstruktif untuk kebaikan atau kesempurnaan karya ilmiah ini, dan berguna untuk masa yang akan datang. Akhirnya, tak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga terwujudnya karya ilmiah ini.

Atas perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

3.1        Kesimpulan
Segala yang diketahui manusia itu adalah pengetahuan. Pengetahuan itu dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu pengetahuan ilmiah dan pengetahuan non-ilmiah. Pembagian ini sangat tergantung dari cara bagaimana pengetahuan itu diperoleh.
Pengetahuan non-ilmiah didapat antara lain dari prasangka, coba-coba, intuisi, dan tidak sengaja. Pengetahuan ilmiah didapat dari usaha yang dasar (sengaja) dengan syarat obyektif, metodik, sistematik, dan berlaku umum.
Langkah metode ilmiah itu adalah:
1.      Perumusan masalah
2.      Penyusunan hipotesis
3.      Pengujian hipotesis
4.      Penarikan kesimpulan
Kelemahan metode ilmiah termasuk Ilmu Pengetahuan Alam adalah bahwa metode ini tidak dapat menjawab atau memperoleh kesimpulan dalam hal-hal yang menyangkut keindahan, sistem penilaian baik dan buruk, serta agama yang berasal dari wahyu ilahi.
Keunggulan metode ilmiah antara lain adalah dapat membuat kita menjadi:
1.      Obyektif dan universal
2.      Menceritakan kebenaran
3.      Tidak percaya kepada takhayul
4.      Mempunyai pikiran yang terbuka
5.      Tidak percaya begitu saja kepada pendapat sebelum ada bukti yang nyata
6.      Bersikap optimis, teliti, dan berani karena benar
 
3.2        Saran-saran
1.      Agar kita semua sebagai umat manusia, diwajibkan lebih memperhatikan dan menjaga alam semesta ini dengan sebaik mungkin.
2.      Agar kita semua dapat menumbuhkan rasa keingintahuan kita terhadap sasaran objek yang menjadi perhatian kita.
3.      Agar umat manusia dapat mengembangkan imajinasi, intuisi, daya khayal, dan kreatifitasnya masing-masing demi untuk kebaikan alam itu sendiri.
Baca Selengkapnya...

Cara Mengatasi Agar Siswa Tidak Ribut Dalam Kelas

1 komentar
Oleh: Sawiyanto, S.Pd.I., M.A.
Tulisan ini saya buat untuk memberikan tips kepada guru khususnya di MTs dan MAS YP. Haji Datuk Abdullah Tanjung Morawa. Bagaimanaa mengatasi agar siswa tidak ribut dalam pembelajaran?
Dalam konsep pembelajaran kuantum kita mengenal prinsip bahwa semuanya memiliki tujuan. Artinya adalah dalam proses pembelajaran harus diupayakan agar semuanya memiliki tujuan bagi terlaksananya pembelajaran dengan baik, efektif, yang terkait dengan komunikasi maupun alat maupun media dalam kelas.
Siswa ribut biasanya ada sesuatu yang tidak benar dengan proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru. Boleh jadi ada sesuatu yang lebih diminati bagi siswa dibanding proses pembelajaran yang sedang dilaksanakan oleh guru. Itu sebabnya, maka hal yang membuat siswa lebih tertarik harus didayagunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
Guru harus mampu membaca situasi siswa ketika mengajar, kemudian menyesuaikan aktivitas pembelajaran dengan situasi tersebut. Hal ini sangat penting, agar proses pembelajaran berlangsung dengan lancar.
Idealnya, guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan situasi dan kosentrasi hati setiap siswa di kelas. Namun ini agaknya tidak mungkin. Oleh karena itu cukuplah jika guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan suasana hati sebagian besar siswa di kelas.
Bagaimana caranya?. Pertama, masukilah dunia siswa. Guru dapat memasuki dunia siswa dalam pembelajaran melalui pertanyaan pancingan yang mengarah pada sesuatu yang sedang menjadi topik perbincangan siswa. Atau, guru mencermati apa yang sedang menarik perhatian siswa, kemudian membicarakan sesuatu yang menarik dari apa yang diperhatikan siswa tersebut (Jangan terlalu lama). Tujuannya adalah untuk mengarahkan kosentrasi siswa pada pelajaran.
Selanjutnya, cari hubungkan apa yang diperbincangkan tadi dengan materi pelajaran, sehingga siswa memberikan perhatian kepada pelajaran. Jangan dipaksakan! Jika sebentar saja perhatian siswa kembali ke hal di luar pelajaran, maka berarti pelajaran hari itu memang tidak menarik bagi siswa.
Dalam situasi seperti ini guru harus cerdas dan kreatif untuk mengubah pelajaran yang tidak menarik itu menjadi menarik bagi siswa. Temukan, apakah karena metode yang tidak tepat, materi yang terlalu sulit, komunikasi yang monoton tidak menginspirasi, atau karena tidak digunakannya media pembelajaran yang sesuai.
Apabila sudah ditemukan penyebab tidak menariknya pelajaran bagi siswa (kalah menarik dibandingkan dengan situasi di luar kelas), maka segera temukan solusinya, dan terapkan dalam pembelajaran. Anda akan menemukan bahwa sebenarnya tidak sulit mengelola situasi di kelas agar fokus pada pembelajaran ketika kita memang sudah mencintai pekerjaan kita, mencintai para siswa kita, dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dan keberhasilan para siswa kita. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah “JANGAN BIARKAN SISWA SELALU PERMISI MENINGGALKAN KELAS DENGAN ALASAN YANG TIDAK EFEKTIF”.
Semoga bermanfaat..................(By Iwas)
Baca Selengkapnya...
 
Perencanaan merupakan bagian penting dalam mewujudkan tujuan. Kegagalan dalam perencanaan berarti merencanakan kegagalan. Perencanaan harus berbasis pada kebutuhan atau need assessment dan berkelanjutan (Direktur Pendis Kemenag RI)